Cerita PendekSastra

Tulisanku Terlahir Dari Ibuku

Matahari mulai menampakkan wajah diperaduannya. Ku buka jendela kamarku langit biru membentang indah, awan putih berarak, biru jugakah langit di sana. Pertanyaan itu terlintas dibenakku ketika melihat keindahan sang pencipta.

Ku rasakan udara pagi yang bersih saat terhirup masuk ke dalam rongga hidungku, ku pejamkan mata sejenak, ku rasakan denyut jantungku berdetak berirama, sambil membayangkan betapa nikmatnya pagi ini.

Related Articles

Aku terhanyut dibuai oleh suasana ini. Bayanganku disentakkan oleh bunyi jarum jam yang berdetak cepat. Ku alihkan pandangan ke arah jarum yang berada tepat di atas tempat tidurku.

OMG, hari sudah menunjukkan pukul 06.45. 15 menit lagi waktunya masuk.

Aku tidak boleh terlambat. Aku bergesas mengambil tas dan sepatu yang sudah ku letakkan di ruang tamu.

” Ibu, aku berangkat sekolah dulu ya.”

Aku berpamitan sambil mencium tangan ibu.

Namaku Kalila Alexa, cukup panggil aku Lila. Aku kelas IX yang sedang berjuang meraih mimpi untuk menjadi seorang penulis. Menulis adalah hobiku karena aku suka membaca.

Berkat ketekunanku dalam menulis, aku masuk nominasi dalam lomba menulis cerpen tingkat SMP se-kabupaten.

Mata pelajaran yang aku sukai adalah Bahasa Indonesia. Aku menyukai pelajaran tersebut karena guruku bu Aisyah menyemangati ku dalam menulis.

Dia adalah guru idolaku. Aku suka dengan bu Aisyah karena beliau mampu menjadikan mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai pelajaran yang menyenangkan. Kini dengan ilmu dan tangan-tangan terampil beliau, menjadikanku salah satu utusan sekolah yang masuk nominasi lomba menulis.

Kala itu, ibu Aisyah memberikan tugas kepada kelasku untuk menulis pengalaman yang mengesankan selama liburan. Otakku seakan berputar tujuh keliling mencari ide apa yang akan ku tuliskan.

Lima belas menit berlalu, kertasku masih putih polos tanpa tersentuh tinta setitikpun. Ku lihat teman-temanku tengah sibuk menulis dengan pengalaman mereka.

“Ahhhhhrr…. ayo otak berpikirlah”, rontaku pelan.

Ku coba merangkaikan kata demi kata dengan pena hello kitty pemberian dari ibuku.

***

Hai kertas, gimana kabarmu?

Apakah kamu juga buntu seperti aku?

Ibu guru Aisyah menugaskan kepadaku untuk menulis pengalaman yang paling berkesan selama liburan.

Apa yang mesti aku tulis?
Wahai kertas yang masih polos, tolong bantu aku untuk menyelesaikan tugas ini. Sungguh sulit bagiku untuk merangkai kata-kata yang runtut.

Semenjak ibu guru Aisyah memerintahkan untuk menulis pengalaman, otakku tak mampu berpikir, pikiranku menerawang jauh pada kejadian seminggu nan lalu.

Taukah kamu wahai kertas, ibuku terjatuh di kamar mandi menyebabkan bagian tubuh sebelah kirinya tidak berfungsi lagi. Ibuku terkena struk ringan.

Beliau sempat tidak sadarkan diri. Jangankan untuk bergerak, berbicara saja susah. Melihat kondisi ibu yang parah, aku tak kuasa menahan air mata seandainya saja ibu diambil Yang Maha Kuasa.

Pikiranku tidak karuan ditambah tangisan kakak yang meraung-raung tidak jelas.

Tidak terima dengan nasib yang menimpa ibu.

Aku tidak terima dengan kejadian ini, berharap menghabiskan libur bersama keluarga di luar kota. Tapi kenyataannya berlibur di rumah sakit.

Oh kertas, betapa hancurnya hati kami sebagai anak yang akan pergi ditinggalkan oleh ibu. Terlepas dari itu semua, ada sosok bapak yang tegar menerima kenyataan dan menghadapinya dengan lapang dada.

Ialah ayah ku yang selalu setia menemani dan merawat ibu dengan penuh kasih sayang. Serta meyakinkan anaknya, ibu pasti sembuh.

Sudah dulu ya kertas, nanti aku temui kamu lagi. Membuka lembaran kebahagiaan untuk ibuku.
Kertas, tolong doakan ibuku ya…

***

Waktu untuk menulis sudah selesai. Tugas dikumpul dan diletakkan di meja bu Aisyah. Aku dengan Pedenya mengumpulkan tugas tersebut, berharap bu Aisyah membacanya.

Keesokan harinya aku dipanggil oleh bu Aisyah. Kata beliau tulisanku bagus, beda dengan pengalaman yang ditulis oleh teman. Cara menulisnya itu beda. Idenya tidak terpikirkan oleh orang lain. Mulanya hanya sebatas curhat pada buku diari. Dan jadilah sebuah pengalaman yang paling berharga.

Basicnya sudah ada, tinggal bagaimana kita mengasahnya, kata bu guru Aisyah.

Semenjak kejadian itulah, bu guru Aisyah tahu dengan bakat yang aku miliki. Beliau melatihku untuk terus menulis dan menulis. Mulai dari mading sekolah, memuat artikel di surat kabar hingga ikut perlombaan antar provinsi.

Aku bangga bisa menulis, membahagiakan orang tua. Sekarang ibuku sudah kembali pulih dengan menghadiahkannya prestasi dalam menulis.

Terima kasih ibu guru Aisyah…

Jasamu akan ku kenang selalu…

Show More

Related Articles

14 Comments

  1. Jadi inget pengalaman waktu SD. Pelajaran yang paling saya sukai menulis cerita. Sama seperti tokoh utama dalam fiksi mini di atas. Waah jadi semangat lagi pengin bikin cerpen😍

  2. Ceritanya hampir sebelas dua belas dengan saya mba, dulu saya selalu malu kalau harus publikasi nulis. Saya selalu merasa bahwa di luar sana lebih banyaj tulisan yang lebih baik drpd tulisan saya. Tapi sejak menang lomba jadi bisa lebih percaya diri dengan tulisan dan karya sendiri. Terima kasih ceritanya mba, saya jadi ikutan nostalgia~

  3. Proses menulis itu memang panjang dan butuh perjuangan ya, tapi kalau terus disemangati dan kita juga pantang menyerah, akan ada hasil yang menyenangkan nantinya. Semangat bersama.

  4. Jadi inget waktu kelas IV SD ada pelajaran mengarang. Kan ditulis tangan di buku bahasa Indonesia. Udah 2 halaman, terus aku engga suka. Karanganku aku kasih silang gede, tanda engga jadi. Tapi karena waktu udah habis, yawda itu aja dikumpulin. Wkwkwk…Engga tahu deh, reaksi bu Guru apa ya?

  5. Apakah ini kisah nyata dari kakak sendiri? Kalau iya, selamat ya mempunyai guru seperti Ibu Aisyah. Beliau jadi pembuka jalanmu menjadi seorang penulis. Kalau fiksi saja, semoga ada banyak guru di luar sana yang bisa menemukan potensi para peserta didiknya.

  6. Mengarang adalah favoritku semasa sekolah, sejak SD sampai SMA. Masih ingat waktu SMP rajin tulis cerpen di kertas double folio. Awalnya setiap selesai menulis cerpen, aku minta tolong si teteh yg udah SMA untuk membaca dan mengoreksinya. Eh siapa sangka cerpenku disukai juga sama teman-teman teteh di sekolah. Bangga banget waktu itu, cerpen anak SMP tapi dipinjem dan dibaca sama anak2 SMA. Pada waktu itu, jadul bangettttt, aku masih tulis tangan pakai pulpen, era 90-an sampai awal 2000-an. Wkwkwk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button