Cerita PendekSastra

Terlambat

Senin pagi yang cerah, untuk pertama kalinya di tahun pelajaran baru diadakan upacara bendera. Semua siswa baru berkumpul bercengkrama mengenal lingkungan perdana. Setelah dua pekan lamanya ditinggal berkelana. Para siswa berbaris teratur dan sempurna melaksanakan upacara di lapangan terbuka.

Upacara bendera, Senin 15 Juli 2019 dimulai. Suara lantang itu jelas terdengar dari pembawa acara. Semua pelaksana dan peserta siap sedia. Tiba-tiba terdengar langkah kaki sedikit berlari dan tergesa-gesa.

Aku sebagai guru piket mengambil alih dan kendali. Menyisihkan barisan terlambat pada pojok kiri. Mentari pagi itu cukup membuat kepala gerah. Menerpa roman muka menjadi merah.

Keringat peluh bercucuran hingga basah. Satu persatu siswa menyerah. Tak kuasa berdiri dan pindah ke ruangan UKS. Dibimbing dokter kecil siap siaga.

Upacara selesai, barisan diistirahatkan. Susunan acara terakhir telah disampaikan.
Tandanya upacara siap untuk dibubarkan.

Aku segera mengamankan beberapa siswa yang terlambat. Ditanya nama, kelas dan alasannya untuk di catat. Sebagai ganti jeranya ku suruh membaca ayat surat. Siswa lelaki tinggi jangkung yang baru ku kenal berujar. Ia terlambat karena membantu orangtuanya berjualan sate hingga tengah malam.

Fide Baraguma

Saya adalah ibu dari 2 jagoan hebat yang sering terpisah jarak karena tugas abdi negara sebagai tenaga pendidik di perbatasan Sumatera Barat dan Jambi.

Related Articles

Back to top button