CeritaCurahan HatiPendidikan

Membumikan Budaya Menulis Pada Siswa

Menulis merupakan suatu kegiatan mengungkapkan sebuah gagasan untuk disampaikan kepada orang lain dengan menggunakan rangkaian kalimat yang logis dan terpadu. Oleh sebab itu, menulis membutuhkan pikiran yang baik untuk mengaplikasikannya ke dalam sebuah tulisan. Jika dihubungkan dengan pembelajaran bahasa Indonesia, kegiatan tersebut termasuk ke dalam keterampilan menulis.

Keterampilan menulis merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang penting untuk dikuasai siswa, baik sekolah maupun di luar sekolah. Melalui keterampilan menulis, siswa diharapkan mampu mengungkapkan pikiran, gagasan, dan pengalamannya dalam berbagai bentuk tulisan. Gagasan itu bisa bersifat fakta, pengalaman, dan pengamatan.

Berdasarkan pengalaman mengajar, siswa mengalami kesulitan dalam menuangkan ide atau gagasan yang ada dalam pikirannya ke dalam bentuk tulisan, terutama tulisan narasi. Siswa kurang memahami konsep mengenai karangan narasi yang berkaitan dengan alur, penokohan, latar, dan sudut pandang. Siswa kurang mampu merincikan tahapan-tahapan alur sehingga alur tidak menarik, terasa datar dan tidak mencapai klimaks. Serta siswa kurang mampu menggambarkan watak tokoh, latar dan posisi pengarang akibatnya karangan yang mereka tulis kurang tergambar dengan jelas.

Apalagi pada kurikulum 2013 ini, pelajaran bahasa Indonesia berbasis teks. Sebagian siswa merasa enggan untuk membaca teks yang panjang. Jangankan untuk mengerjakan latihan, membaca soal dalam ujian semester saja mereka enggan dengan alasan teks yang terlalu panjang.

Berdasarkan permasalah di atas, saya mencoba menerapkan strategi pembelajaran menulis cerpen dengan teknik 3 M. Meniru, Mengolah dan Mengembangkan. Di sini siswa diberikan pemodelan teks cerpen. Langkah pertama yang dilakukan adalah membaca cerpen dan mengidentifikasinya. Kemudian hasil dari identifikasi tersebut diolah dan dikembangkan menjadi sebuah cerita. Lebih tepatnya mengulang kembali teks cerpen dengan menggunakan bahasa siswa.

Atau menjadikan pengalaman pribadi siswa untuk diubah menjadi sebuah cerita pendek. Dengan menambahkan monolog dan dialog pada cerita pengalaman tersebut. Pada tahap pengembangan inilah kreativitas siswa dituntut.

Namanya juga belajar, butuh pemahaman dan konsentrasi penuh dalam menciptakan sebuah cerpen. Hasil penilaian membuktikan 60 % siswa bisa mengerjakan tugas tersebut. Hal ini sudah membuat saya sedikit lega dengan hasil yang mereka capai. Ini merupakan PR bagi guru meningkatkan keterampilan dalam menulis cerpen.

Di sinilah peran saya sebagai guru bahasa Indonesia menjadikan pelajaran bahasa Indonesia disenangi oleh siswa. Saya mencoba masuk pelan-pelan menanamkan budaya membaca dan menulis pada siswa. Dengan kebiasaaan membaca, otomatis akan mudah menciptakan sebuah tulisan.

Ada yang respek dan ada yang cuek. Di daerah tempat saya mengajar, untuk berkomunikasi dengan guru masih terbawa bahasa ibu yang khas. Apalagi pribumi yang tinggal di lingkungan sekolah menggunakan dialek yang masih kental. Rata-rata penduduk di sana campuran Minang dan Jawa.

Jika ada siswa orang Jawa yang berbicara dengan bahasa Indonesia, pasti ada saja siswa yang mengoloknya. Untuk mengubah kebiasaaan itu, butuh proses yang panjang. Saya sudah memberikan contoh kepada siswa untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Dengan begitu mereka akan terbiasa untuk melatih dirinya.

Selama masa pandemi kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah. Selain mengerjakan tugas TFH di rumah, saya menyempatkan untuk aktif menulis di blog pribadi. Membiasakan diri agar terbiasa menulis. Targetnya satu tulisan untuk satu hari. Setidaknya tulisan yang saya buat berguna bagi pembaca.

Mengingat akan pentingya pembelajaran menulis, tidak salahnya saya mencoba menyalurkan bakat menulis ini pada siswa. Saya teringat akan strategi pembelajaran menulis yang sudah diajarkan pada siswa kelas IX. Mulanya, saya mengirimkan satu artikel ke WAG masing-masing kelas pada tanggal 22 Mei 2020. Saya berharap semoga mereka membaca tulisan yang saya kirim.

Seminggu kemudian, saya mengirimkan sebuah cerpen yang berjudul tulisanku terlahir dari ibuku pada WAG kelas IX. Salah seorang siswa pada grup itu mengomentari cerpen yang saya tulis. Ia tertarik untuk membuat cerita yang saya kirim.

Mudah-mudahan siswa yang bertanya tadi dapat menuliskan cerita pendeknya pada saya. Begitulah harapan yang terpatri agar anak didik saya bisa berkarya meskipun di tengah wabah yang melanda. Saya terus mengirimkan energi positif pada siswa atas tulisan-tulisan saya yang mungkin menjadi sumber inspirasinya dalam menulis.

Tak hanya berhenti di situ saja atas saran dari teman, saya membuat semacam kompetisi menulis cerpen dan puisi yang saya tujukan pada masing-masing kelas. Setiap kelas terdiri dari 10 peserta dengan membuat salah satu karya tersebut, kemudian mengirimkannya pada WAG. Dengan rentang waktu selama 2 minggu. Dari 10 peserta, saya akan memilih tulisan terbaik dan pemenang pertama akan dimuat tulisannya pada blog pribadi saya. Sebagai penyemangat mereka, saya memberikan reward berupa pulsa.

Seminggu sudah berlalu. Masing-masing kelas hanya mengutus 2 orang perwakilan yang benar-benar mau mengikuti kegiatan ini. Hampir saja patah arang. Tapi saya tidak mungkin menghentikan kompetisi ini. Mungkin efek siswa yang terlalu lama belajar di rumah membuat mereka malas untuk menulis. Apalagi ini tidak ada hubungannya dengan nilai yang akan mereka terima nanti.

Saya berusaha kembali membujuk mereka agar dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini. Lagi-lagi pesertanya hanya berdiam diri di tempat. Lalu saya memutuskan untuk menggabungkan seluruh peserta dari empat kelas yang saya ajar.

Hanya ada 5 peserta yang ikut andil dalam kompetisi ini. Tiga buah cerpen dan dua puisi. Penilaian saya lakukan pada tanggal 14 Juni 2020. Saya harus selektif dalam menentukan tulisan yang terbaik. Masing-masing tulisan saya berikan catatan kecil tentang karya yang sudah mereka tampilkan. Penilaian tersebut langsung saya kirim pada siswa yang bersangkutan supaya mereka mengenali dimana letak kesalahannya.

Tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Pengumuman pemenang lomba kompetisi menulis cerpen dan puisi ala bu guru Fide telah beredar di WAG masing-masing kelas. Saya berkomitmen dengan kesepakatan yang sudah saya buat pada perlombaan kali ini. Sungguh bukan kepalang senangnya hati Thesa Febriola siswa kelas IX.7 yang meraih juara 1 dengan cerpen yang berjudul “Bintang Kelas”. Mendapatkan pulsa 50 ribu rupiah sebagai hadiah atas kesungguhannya.

Semoga sepenggal kisah dari bu guru di perbatasan ini mampu mengajak siswa lebih giat dan mau belajar lagi untuk menanamkan kebiasaan menulis dalam kehidupannya kelak.

Gambar merupakan koleksi pribadi.

Show More

Related Articles

13 Comments

  1. Menulis adalah kemampuan paling kompleks yang mampu menunjang masa depan mereka di masa depan. Saya setuju dengan cara ibu mengaplikasikan pengajaran untuk meningkatkan kemampuan anak dalam menulis; dengan cerita lebih memudahkan anak untuk dapat mencerna sebuah bacaan dibandingkan dengan tema-tema serius yang muncul di berita cetak/daring. Semangat selalu bu guru.

  2. Saya suka sekali pelajaran Bahasa Indonesia, sejak SD sampai SMA. Saya rasa anak-anak sekarang juga suka sekali pelajaran satu ini. Yang sering dikeluhkan itu justru pelajaran bahasa daerah. Kadang nilai Bahasa Indonesianya sempurna, tapi bahasa daerahnya amburadul. Hehehe. Kalo 60 persen siswa mba sudah berhasil mengerjakannya, berarti sukses dong. Semoga semangat selalu mengajarnya mba.

  3. Jadi keinget waktu masih SD. Salah satu guru bahasa Indonesia di sana yang bikin aku cintaaa banget sama nulis hehehe. MasyaAllah yaaa. Guru yang seperti ini terkenang sampai akhir hayat lhoo.

  4. MasyaAllah. Mbak benar-benar guru yang penuh perhatian ya. Terus berusaha menanamkan kemampuan menulis murid-murid supaya kelak senang dan cinta literasi.

    Semangat terus ya Mbak.

  5. Nah ini dia guru inovatif… mau keluar dari zona nyaman mengajak siswa aktif hingga mengadakan kompetisi.. keren . . Bukan hanya guru yg sekedar menyampaikan materi pengajaran dan selesai… ngerti ga ngerti urusan masing2. .

  6. Akibat dari pandemi membuat banyak anak anak pada males dan kurang aktif dalam kegiatan belajar.. Meski sudah ada daring bersama guru namun kurang efektif karena guru tidak bisa mengkondisikan murid secara langsung.. Meskipun daring sudah ditemani oleh wali mereka masing masing.. Namun rupanya masih ada wali yg acuh tak acuh terhadap pendidikan anak selama daring tersebut… Sebagai guru harus tetep berjuang melakukan tugasnya.. Ide kreatif dan inovatif dr sang guru sangat diuji.. Tetap semangat ya bu dalam mencerdaskan masa depan bangsa.. You can do it!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button