Cerita PendekSastra

Ketika Matematika Berbicara

Pagi itu tepat pukul 09.05 jam pelajaran kedua telah usai. Saatnya bu Lita guru matematika masuk ke kelas IX.3. Seisi kelas pada saat itu berubah menjadi diam, kaku tak bergerak. Ternyata akan ada ulangan matematika kiranya.

Alifa si siswa cerdas tampak tenang dan santai. Sementara itu, Bayu dan Dito yang terkenal siswa nyentrik terlihat gelisah menunggu kedatangan bu Lita.

“Kumpulkan semua buku yang berhubungan dengan matematika ke depan,” perintah bu Lita. Seisi kelas hanya bisa nurut dan pasrah atas perintah bu Lita.

“Sediakan kertas satu lembar dan alat tulismu!”, perintah kedua itu keluar dari mulut wanita berkaca mata.

Keadaan berubah seketika. Sunyi merongrong disetiap penjuru kelas. Diam beribu makna. Hiruk pikuk putih dongker dari kelas itu tak terdengar dalam waktu enam puluh menit.

Menghadapi ulangan matematika yang mengerikan, itulah yang terjadi pada kelas itu. Otak mereka seakan terkuras dengan rumus matematika yang menari-nari di kepala.

Berjuang sekuat tenaga dengan hafalan rumus matematika yang menjadi momok setiap siswa. Mereka hanya berfikir dangkal dan menyerah pada keadaan. Tapi tidak untuk Alifa.

Ia dengan santainya mengisi setiap butir soal berikut dengan ulasan jawaban yang padat. Mungkin ia sudah terlalu cinta dengan matematika.

Bayu yang dari tadi berusaha mencari kunci jawaban dengan mencolek satu persatu temannya tak kunjung usai. Kertas jawaban belum bertuliskan satu hurufpun. Alamat akan berujung remedial nantinya.

Sementara itu, Dito kawan sebangku Bayu tengah berusaha memanjangkan lehernya pada teman yang berada didepannya. Beharap secercah contekan datang menghampirinya.

“Waktunya tinggal lima menit lagi,” suara tegas bu Lita mengingatkan. Sontak kelas itu pecah sejenak atas peringatan bu Lita.

Bayu dan Dito kocar-kacir mencari jawaban teman dan hanya dua pertanyaan yang dapat dijawab. Selebihnya diabiarkan saja kosong melompong.

“Waktunya sudah habis, segera kumpulkan jawabanmu ke depan,” ucap bu Lita guru matematika yang terkenal disiplin itu.

Seisi ruangan kelas sempat menjadi tak beraturan. Permintaan penambahan waktu keluar dari mulut Dito.

“Siap tidak siap, segera dikumpul,” penegasan kembali oleh bu Lita. Kertas ulangan itu seketika telah berada ditangan guru yang terkesan kiler itu.

Suasana kelas kembali heboh seperti seharusnya. Raut wajah pasrah tergambar jelas pada siswa yang belum selesai mengerjakan soal-soal tersebut.

“Apa jawaban nomor tiga Fa?” tanya Wella sahabatnya. Alifa menjelaskan jawaban pada Wella.

“Berarti jawabku salah ya. Ya Allah, akankah aku remedial lagi?” pikiran Wella menerawang jauh.

Sebegitu rumitkah matematika itu? Seperti penyakit kronis yang meronggoti tuannya. Bersarang pada tubuh dan berjangkit hingga melemahkan pikiran atas doktrin matematika itu sulit.

“Matematika itu seru lho. Kita harus jatuh cinta dulu pada matematika. Sukai gurunya setelah itu pelajarannya dan sering mengulang kembali materi yang sudah diajarkan,” jelas Alifa.

Alifa dengan PD-nya menjelaskan kepada teman-temannya. Mengapa ia lebih tertarik pada matematika ketimbang seni.

Ia lebih suka bergelut dengan rumus-rumus eksak. Menyelesaikan dengan sekejap soal-soal yang dianggap sulit daripada harus melenggak longgok pada saat ujian praktek seni tiba.

Ya. Itulah Alifa. Si gadis berkulit sawo matang dengan ciri khas tahi lalat di pipi. Si hitam manis ini adalah siswa berprestasi di sekolah itu. Mengikuti seluruh kegiatan dibidang eksak. Bahkan menjuari lomba sains. Tak ayal, teman-teman sekelasnya salut pada perjuangannya itu.

Bu Lita kembali memasuki kelas itu. Kali ini beliau tidak menguji kekuatan mental dan otak siswanya. Bu Lita akan mengumumkan dan membagikan hasil ulangan.

“Hanya ada lima orang yang lulus KKM untuk ulangan ini. Alifa, Wella, Sukma, Adi dan Tiara,” bu Lita menjelaskan hasilnya.

Kekecewaan muncul diraut wajah-wajah yang telah berjuang, tapi tidak mencapai target yang diinginkan.

Siswa yang berjumlah 32 orang pada kelas itu. Hanya 5 orang yang tuntas nilainya. Akanlah ini menjadi penyakit kronis menahun?

Fide Baraguma

Saya adalah ibu dari 2 jagoan hebat yang sering terpisah jarak karena tugas abdi negara sebagai tenaga pendidik di perbatasan Sumatera Barat dan Jambi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button