Cerita PendekSastra

Jam Terakhir

Hari ini benar-benar melelahkan mengajar di empat kelas dalam waktu berturut-turut. Bel jam pembelajaran terakhir sudah dibunyikan. Ku ayunkan langkah menuju kelas VIII.6 yang terletak di ujung kanan dari kantor. Posisi kelas yang letaknya strategis bagi siswa yang ingin cabut dan yang candu minta izin ke toilet tak taunya nyangkut di kantin yang berada di samping kelas tersebut. Kelas yang sudah ku bina hampir 10 bulan lamanya dengan berbagai macam karakter siswa. Mudah-mudahan jam terakhir ini ku lalui dengan indah.

“Kita lanjutkan membahas soal yang belum tuntas kemarin ya,” sambil memberikan aba-aba pada siswa. Di tengah pembahasan soal berlangsug, Rio siswa yang tidak betah berlama-lama duduk di kelas meminta izin kepadaku ke toilet. Selang beberapa menit kemudian Nabila siswa cerdas juga minta izin ke koperasi dengan alasan membeli pena. Ku lanjutkan memberikan penjelasan pada siswa. Ayu dan Rangga sedari tadi ku perhatikan asyik mengobrol dan tidak memperhatikanku menjelaskan pelajaran. Ku tanya soal nomor 25, mereka tidak dapat menjawabnya. Begitu juga Dito yang sudah berada di alam mimpinya. Kelas menjadi tidak kondusif dan hiruk pikuk obrolan di depan dan belakang kian jelas terdengar. Tak biasanya penghuni kelas berbuat seperti ini. Biang yang membuat keributan tak berada di dalam kelas. Ada apa sebenarnya?

Ku pukulkan penghapus papan ke meja dengan hentakan yang keras agar mereka berhenti bersuara. Kelas menjadi hening sejenak. Ku berusaha menjaga sikap agar tidak tersulut emosi dan melanjutkan kembali pembahasan soal. Beberapa menit kemudian suara gaduh itu kembali menyeruak menghiasi kelas itu. Aku berusaha sabar dan menahan diri untuk tidak marah. Menceramahi seisi kelas agar bisa berkonsentrasi mendengarkan penjelasan soal yang akan masuk pada ujian kenaikan kelas nanti. Tiba-tiba Rio datang dari luar sambil membawa kue ulang tahun diiringi dengan Nabila yang menggenggam rangkaian bunga ditangannya dan disambut dengan nyanyian lagu ulang tahun untukku dari siswa tercinta.

Fide Baraguma

Saya adalah ibu dari 2 jagoan hebat yang sering terpisah jarak karena tugas abdi negara sebagai tenaga pendidik di perbatasan Sumatera Barat dan Jambi.

Related Articles

Yuk dibully!

Check Also
Close
Back to top button