Curahan HatiKesehatanPendidikan

Inikah Rasanya? Vaksin Pertama Baraguma

Sudah dua pekan lamanya, kepala Puskesmas Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya telah menginformasikan jadwal vaksinasi covid-19 lewat WAG sekolah yang ada di lingkungan Koto Baru. Kami MTsN Dharmasraya mendapat jadwal vaksin pada hari Rabu, 5 Mei 2021.

Apa itu vaksin?

Dilansir dari Wikipedia, vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilan kekebalan terhadap suatu penyakit. Pemberian vaksin dilakukan untuk mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi penyebab penyakit-penyakit tertentu. Adapun jenis vaksin yang disuntikkan adalah vaksin Covid CoronaVac yang disebut juga dengan Vaksin Sinovac.  

Persiapan apa yang mesti saya lakukan?

Sudahkah saya siap melakukannya? Itulah pertanyaan yang mesti saya jawab jika hal ini dipertanyakan. Saya mesti siap baik lahir maupun batin. Secara mental saya siap betul dalam menjalani vaksin ini. Tapi fisik saya masih bimbang akan vaksin. Mengingat saya mempunyai riwayat penyakit vertigo. Hal ini tentu akan berdampak pada kesehatan saya nantinya.

Teman menyarankan kepada saya untuk berkonsultasi dulu kepada dokter. Apakah saya boleh divaksin. Seperti pengalaman dari orang yang telah menjalani vaksin, efek yang diterima tergantung pada respon imun tubuh kita masing-masing. Ditambah dengan vaksin covid-19 yang digunakan.

Kapan Baraguma divaksin?

Kamis pagi, di WAG madrasah saya menginformasikan bahwa jadwal vaksin akan dimajukan yang semula tanggal 5 Mei 2021 menjadi tanggal 30 April 2021. Ini dilakukan mengingat banyaknya jumlah data yang akan divaksin dari instansi saya, maka jadwalnya dipercepat.

Jadwal vaksin dilaksanakan pada pukul 08.00 WIB. Secara bersama-sama kami berangkat menuju Puskesmas Koto Baru. Sesampai di sana, petugas kesehatan meminta KTP sebagai syarat untuk divaksin. Pendaftaran ini dilakukan pada meja 1.

Setelah nama didaftarkan secara online, nama saya dipangggil untuk pengecekan kesehatan. Berkonsultasi bersama dokter yang bertugas pada meja 2. Ditanya riwayat penyakit apa yang pernah dialami. Dan saya menceritakan riwayat penyakit yang pernah saya alami.

Dokter itu mengatakan, bahwa saya boleh di vaksin. Ini dikarenakan tensi saya normal, tidak sedang rutin minum obat, dan kondisi kesehatan saya baik.

Lanjut tahap selanjutnya adalah pendaftaran nama secara manual yang ditulis oleh petugas kesehatan pada sebuah buku di meja 3. Kemudian dilanjutkan dengan menyuntikkan vaksin pada lengan kiri saya. Di dalam hati saya berdoa semoga baik-baik saja. 

Petugas menyarankan setelah divaksin, agar duduk selama 30 menit. Ini bertujuan atas reaksi vaksin, jika terjadi perasaan ingin pingsan mengingat sedang berpuasa. Duduk santai sejenak sembari menunggu kartu vaksinasi covid-19 yang dicetak oleh petugas. 

Siapa yang tidak boleh divaksin?

Ada pengecualian bagi orang yang tidak boleh divaksin diantaranya, ibu hamil, ibu yang masih dalam masa nifas, mempunyai riwayat penyakit kronis, alergi kronis, dan riwayat covid-19 yang masih berusia kurang dari 3 bulan.

Apa efek samping yang dialami setelah vaksin?

Dilansir dari Kementerian Kesehatan, efek samping yang sangat umum terjadi biasanya bersifat ringan seperti:

  • pusing
  • mual
  • nyeri otot (myalgia)
  • nyeri sendi (arthralgia)
  • nyeri di tempat suntikan
  • kelelahan
  • malaise
  • demam 

Efek samping vaksin covid-19 merupakan respon tubuh ketika vaksin sedang bekerja untuk meningkatkan sistem kekebalan pada tubuh. Namun, tak perlu khawatir sebab efek samping vaksin covid-19 yang muncul pada umumnya hanyalah efek samping ringan

Apa efek samping yang saya rasakan?

Setelah vaksin bekerja 1 jam dalam tubuh, saya merasakan sedikit pusing dan jika berjalan terasa akan jatuh. Lalu saya putuskan untuk beristirahat. Katanya setelah divaksin, tubuh akan sering mengantuk dan lapar. Dan ini tidak berlaku bagi tubuh saya.

Berawal dari pusing kemudian berlanjut pada sakit kepala. Sakit kepala yang saya rasakan seakan menjadi-jadi. Terasa dipukul-pukul ditambah dengan panas dan dingin tubuh yang saya rasakan. Saya sudah berusaha untuk tidur dan beristirahat. Alhasil sakit kepala yang saya rasakan bertambah parah. Saya berusaha untuk tenang dan tidak panik.

Saya segera bertanya langsung kepada teman yang bekerja di bagian kesehatan, jika efek sampingnya seperti ini boleh tidak meminum obat pereda nyeri. Jawabannya boleh. Lalu saya segera makan, minum obat dan beristirahat.

Alhamdulillah  setelah minum obat, saya bisa tidur selama 2 jam. Setelah bangun tidur, kepala saya sudah terasa ringan. Badan sudah kembali segar.

Itulah pengalaman vaksin pertama yang saya alami. Saya berharap semoga vaksin kedua, jika terjadi keadaan yang seperti ini, saya sudah tahu langkah apa yang mesti saya lakukan. Lalu, bagaimana dengan kisah vaksin pertama Anda?

Fide Baraguma

Saya adalah ibu dari 2 jagoan hebat yang sering terpisah jarak karena tugas abdi negara sebagai tenaga pendidik di perbatasan Sumatera Barat dan Jambi.

Related Articles

Yuk dibully!

Back to top button