Opini

Dari Sekedar Coba-Coba Akhirnya Membawa Untung

Dari Sekedar Coba-Coba Akhirnya Membawa Untung

Aia kacang…aia kacang… Aia kacang bisa untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti sariawan dan panas dalam. Iwan (47) seorang penjual aia kacang tidak pernah kehilangan akal dalam berusaha.

Demi menghidupi keluarganya, berjual aia kacang pun dijalaninya. Meski cuma seorang pedagang aia kacang, Iwan telah dapat menyekolahkan anaknya sampai kejenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Saat matahari mulai bersinar terik, tidak serta merta membuat aktivitas warga jadi terhenti, justru mereka tetap menjalani rutinitasnya masing-masing.

Hilir mudik kendaraan yang berseliweran dibeberapa ruas jalan tetap normal seperti biasanya. Demikian juga halnya dengan aktivitas disepanjang jalan Diponegoro, Aur kuning, Bukittinggi.
Ruas jalan ini tetap sesak dengan lintasan hilir mudik kendaraan roda empat dan roda dua. Seakan tidak mau ketinggalan beberapa pejalan kaki pun ikut meramaikan pengguna jalan itu.

Beberapa kedai yang ada disepanjang jalan terlihat ramai dikunjungi warga. Ada yang minum segelas kopi sambil menghirup sebatang rokok, ada yang minum es kelapa muda dengan lahap dan ada juga yang hanya duduk sambil melepas lelah.

Ditengah-tengah kesibukan orang menjalani aktivitasnya masing-masing, dipersimpangan jalan itu tampak seorang Iwan penjual aia kacang yang tengah sibuk mempersiapkan barang dagangannya.

Disela-sela kesibukannya ia tetap tersenyum melihat kearah jalan, sambil berharap agar pembeli datang untuk mencicipi aia kacangnya. Disamping aia kacang kalikih santan pua siap untuk disantap oleh pembeli.

“Apak baraja maracik aia kacang ko dari caliak-caliak urang senyo. Sudah tu Apak cubo-cubo surang untuak mambuek aia kacang ko”. Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Iwan saat memulai cerita hidupnya.

Iwan memiliki 6 orang anak, diantaranya 2 orang perempuan dan 4 orang laki-laki. Istrinya berjualan kue pastel di rumahnya. Untuk menghidupi keluarganya Iwan harus mendorong gerobak aia kacangnya dari rumah sampai dipersimpangan jalan Diponegoro.

Tahun 1997 adalah tahun perjuangannya menjual aia kacang. Iwan dan keluarganya tinggal di Tarok Pincurang Gaung, kira-kira 1.5 km dari persimpangan jalan Diponegoro, Aur kuning, Bukittinggi.

Tepat pada pukul 11.30, Iwan berangkat dari rumah sambil mendorong gerobak aia kacangnya menuju persimpangan jalan Diponegoro. Sampai dipersimpangan jalan itu pada pukul 12.00 siang. Dan jika hari telah menujukkan pukul 18.00, Iwan segera mengemasi barang dagangannya dan mendorong barang dagangannya menuju rumah.

Itulah pekerjaan yang dilakukan Iwan setiap hari. Dengan bermodal Rp 30.000 perhari, Iwan telah mendapatkan hasil dari menjual aia kacang itu minimal Rp 75.000 sehari.

Dengan hasil penjualan aia kacang ditambah dengan hasil dari berjualan kue pastel yang dijual istrinya, Iwan bisa menyekolahkan anak pertamanya di perguruan tinggi UNAND.

“Alhamdulillah, rasaki yang diagiah Tuhan tu bisa manyakolahan anak Apak kasadonyo. Anak Apak nan partamo kuliah di UNAND, sekolah SMA baduo urang, SMP surang, SD surang, yang ketek kini baru barumua 4 tahun” tegas Iwan.

Bagi Iwan pendidikan merupakan hal yang nomor satu. Tanpa pendidikan kita tidak memiliki pengetahuan dan skill untuk meraih cita-cita yang kita inginkan.

Saat diwawancarai, Bapak 6 orang anak ini yang hanya menamatkan sekolah SMP berharap kepada buah hatinya, agar bisa menamatkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi untuk menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button