Cerita PendekSastra

Cerpen, Gara-gara HP

Ma… aku minta ganti hp baru boleh?” bujuk Fika ke mamanya sepulang sekolah.

“Kamu gimana sih? Waktu belum dibeliin hp katanya, hp apa aja yang penting biasa dipake, sekarang kok tiba-tiba minta yang baru. Kamu pikir segampang itu gonta-ganti hp. Punya mama aja masih yang lama. Nanti kamu ngomong sama papa aja dech!” jawab mama Fika sambil beres-beresin majalah yang berserakan di ruang tamu.

“Ya mama. Itu kan dulu, sekarang beda. Aku malu nih ma pake hp ini, teman-temanku semuanya udah punya yang pake internet segala. Masa punyaku paling hebatnya cuma biasa main kartu. Tuh, udah ketinggalan zaman banget kan ma? Mama aja deh yang bilangin ke papa, pasti nanti kalau aku tanya sendiri, papa nanyanya aneh-aneh deh. Ma… mama… ganti ya ma… ah, mama pelit!”

Fika memutuskan untuk masuk ke kamarnya, karena mamanya cuek banget dengan keinginannya mengganti hp baru. Ia hempaskan tubuhnya ke kasur dan melayangkan pandangannya ke atas lampu kristal yang sedang bergelantungan di kamarnya.

Pikirannya menerawang jauh membayangkan sebuah hp yang ia incar-incar selama ini. Ada internetnya, ada radionya, ada kameranya, permainan yang bagus bahkan ada kalendernya. Aku bisa tunjukin ke teman-teman, kalau aku juga bisa beli hp baru, pikir Fika.

Riska, teman sebangkunya baru ganti hp yang bisa dipake untuk internet. Lisa, teman les bahasa Inggrisnya baru ganti hp yang ada radionya. Mimi, tetangganya dari kecil ganti hp yang udah ada kalendernya. Belum lagi pacarnya Zaki, udah pake hp yang ada kameranya.

“Tuh… kan, hpku ketinggalan jaman banget. Udah nggak ada kelebihan apa-apa lagi, paling bisa telepon, sms sama main kartu aja. Tuh kan, ketinggalan jaman banget. Tapi kalau mau jual yang ini ditambah dengan uang tabunganku, mmmhhh… nggak cukup juga beli hp kayak punya Riska. Ah, mesti nabung berapa lama lagi nih? Padahal hp ini kan aku beli pake uang tabunganku sendiri, masa aku jual sih! Fika berkata dalam hati.

***

Besoknya di sekolah, Fika sama sekali tidak mengeluarkan hpnya. Malu. Itu alasannya. Entah malu sama siapa, tapi yang jelas Fika selalu berusaha menghindari percakapan terntang hp.

“Fi, Fika lihat deh! Aku punya hp baru nih ada internetnya loh…. Aku bisa catting dan kirim email lewat hp ini. Kamu tahu nggak kalau aku baru dapat teman catting, cowok, tajir, punya mobil dan anak konglomerat lagi. Dan hari ini aku janji sama dia mau ketemuan. Kata Mia teman sekelas Fika yang dari tadi nyerocos seperti bunyi letusan sebuah pistol”.

Fika hanya diam mematung mendengarkan perkataan Mia. Bak layaknya seorang pembeli yang sedang termakan rayuan si penjual. Tapi di balik itu, kuping Fika terasa terbakar dan hangus mendengarkan ucapan Mia. Fika langsung pergi ke luar kelas dan berusaha menghindari percakapan itu

Di sebuah pohon yang rindang ditemani bunga-bunga yang indah, Fika duduk melamun memikirkan bagaimana caranya untuk membujuk papanya.

***

“Pa, papa baik deh,” rayu Fika sambil bergerak sedikit manja ke papanya yang lagi nonton kuis di TV.

“Pasti ada maunya deh deket-deket sama papa,” sahut papa Fika.

“Ah… papa. Jangan gitu dong, Fika jadi nggak enak nih. He…he…he… Ia sih pa. Pa, aku mau ganti hp dong,” bujuk Fika sambil memainkan hpnya.

“Ganti hp? Kenapa kamu tiba-tiba mau ganti hp? Hp kamu rusak?” kata papa Fika yang memang bertempramen tinggi menjawab dengan nada yang sedikit tinggi dan kaget.

“Iya pa. Jangan kaget gitu dong. Emangnya kalau ganti hp harus rusak dulu ya? Papa ketinggalan jaman banget deh. Semua teman-temanku sudah pada ganti hp yang baru pa. Tinggal aku aja yang masih pake hp jaman dulu gini. Nggak mahal kok pa. Cuma 2.5 juta. Pa boleh ya pa? Aku tambahin deh…” ujar Fika dengan semangat.

“Hah, 2.5 juta kamu bilang murah? Emangnya kamu punya uang berapa?” kata papa lagi.

“Aku punya uang 500 ribu,” jawab Fika dengan santai.

“Jadi papa yang nambahin 2 jutanya. Kamu ada-ada aja Fi. Udah pake aja yang lama. Masih bagus dan masih bisa dipake kan? Untung kamu punya hp, nggak semua orang bisa beli hp, untuk makan aja susah. Lagian papa nggak punya uang. Lain kali aja ya, kalau kamu ulang tahun, papa beliin.” Kata papa sambil berdiri dari ruang TV menuju kamarnya.

“Yah papa Aku kan baru ulang tahun bulan kemaren. Berarti tahun depan dong gantinya. Iii… Papa masa begitu…! Ucap Fika sambil merengek.
“Kring…kring…kring…,” Fika angkat teleponnya!” kata mama dari dalam kamar. Dengan segan Fika mengangkat telepon.

***
Hati Fika bercampur senang dan sedih setelah menerima telepon dari Mia. Fika senang karena Mia telah menyadari perbuatannya dan sedih karena Mia harus kehilangan hpnya. Tubuh Fika terhempas ke sova setelah menerima telepon dari Mia, sambil memikirkan keinginannya untuk membeli hp baru. Lamunannya disentakkan oleh suara TV yang dari tadi berkoar-koar sendiri tanpa ada penontonnya.

Akhirnya Fika memutuskan untuk menonton TV. Lagi asyik-asyiknya gonta-ganti chanel, Fika berhenti di salah satu chanel stasiun TV swasta yang lagi nayangin suasana perang di Afganistan.

Fika yang lagi bete, tiba-tiba berubah jadi sedih banget dan berkaca-kaca gara-gara melihat langsung berita tentang anak kecil kira-kira umur 4 tahun, dengan keadaan tubuh yang tinggal pembalut tulang saja, karena makanan di sana susah di dapat.

Belum lagi kakinya yang tinggal sebelah karena anak itu kena ranjau tanpa sengaja. Yang bikin Fika nangis, anak kecil itu masih bisa tersenyum dengan manis sewaktu dibawakan makanan oleh perawat. Sepertinya dia tidak peduli dengan satu kakinya yang udah nggak ada.

Butiran-butiran air mata telah membasahi pipi Fika yang putih dan mulus. Rasanya hati Fika sedikit pilu menyaksikan berita tadi. Bagaimana tidak, kalau seandainya Fika berada pada posisi itu pasti sungguh menyakitkan.

Bagaimana mungkin seorang yang sudah kehilangan kaki masih bisa tersenyum seperti itu, pikir Fika. Bagaimana mungkin aku bisa sedih banget cuma gara-gara nggak bisa beli hp model terbaru, sementara aku masih punya papa-mama yang sayang banget ama aku.

Aku mempunyai anggota tubuh yang lengkap, rumah yang mewah, masih bisa makan tiga kali sehari, masih bisa les bahasa Inggris, masih bisa ke Mall, masih bisa ini, masih bisa itu…, dan masih bisa melakukan banyak hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, pikir Fika menerawang jauh.

Nggak terasa air matanya mengalir deras di pipi. Tanpa disadari Fika mengucapkan “Terima kasih Tuhan” suara itu keluar dari mulutnya yang menggilil menahan tangis.
-Tamat-

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button