Cerita PendekCurahan HatiParentingSastra

Ceritaku Bersama Buah Hati Bagian 2

Misi pertamaku untuk buah hati berbuah manis. Si bungsu rajin mewarnai gambar yang sudah ku lukis, meskipun kelihatannya masih kasar. Tapi tidak apalah, sekalian melatih motoriknya untuk mewarnai gambar. Mungkin suatu saat nanti ia bisa menggambar layaknya pelukis terkenal. Amin.

Aksi jungkir balik mobil ala si bungsu

Rutinintas pagi ini ku awali dengan mencuci pakaian yang sudah 2 hari menumpuk di keranjang. Lumayan banyak. Ada 3 tumpukan pakaian kotor yang akan ku cuci pagi ini.

Sembari mencuci, pikiranku tertuju pada tumpukan piring kotor yang sudah menggunung di bak pencucian piring. Segera ku cuci piring kotor itu.

Putaran pertama pakaian yang berada di mesin cuci telah berdenting. Itu tandanya air cucian siap untuk di buang dan di keluarkan melalui pipa selang. Ku letakkan piring yang masih ku sabuni dan segera menekan tombol drain yang ada pada mesin cuci.

Setelah 6 kali pemutaran, bilasan pakaian itu siap untuk dijemur. Ku langkahkan kaki menuju halaman depan sambil membawa ember yang berisi cucian tadi. Ku angkat tempat jemuran ke arah cahaya matahari. Mulailah ku gantung satu persatu baju itu menggunakan hanger.

Sekirat 20 menit lamanya menjemur pakaian. Badanku sudah mulai terasa panas karena dipapar oleh sinar matahari pagi. Ku lanjutkan mencuci piring yang masih terbengkalai di bak pencucian.

“Masak apa ya hari ini?” pikiranku menerawang sambil meletakkan piring yang sudah di cuci di rak piring.

Tanganku meraba pintu kulkas dan membukanya. Ku lirik satu persatu bahan makanan yang masih tersisa di kulkas. Biasanya mama mertua selalu menstok bahan makan yang akan dimasak. Tetapi bahan yang ku cari itu tidak ku temui.

Oh ya, tadi mama mertua bilang jika ia sedang menunggu tukang sayur langganannya. Tit…., tit…..tit…. bunyi klakson itu menandakan tukang sayur langganan mama mertua sudah datang. Ku hampiri tukang sayur itu dan memilih lauk pauk beserta sayuran untuk ku bawa pulang.

Aku langsung mengeksekusi bahan makanan tadi. Membuat menu sup ayam bakso kesukaan anak-anak, tempe goreng tepung dan ayam goreng balado.

Masih mengenai makanan. Sewaktu aku hendak pergi ke perantauan, aku membeli 2 liter beras pulut hitam. Rencananya akan ku buatkan bubur hitam. Tapi karena banyaknya pekerjaan rencana itu tidak jadi terlaksana.

Nah, inilah saatnya aku memasak beras pulut hitam itu menjadi bubur hitam. Mmmmmmm, sudah terbayang lezatnya sampai kekerongkongan. Menu ini adalah makanan kesukaan si suami. Ah, gagal lagi deh dietku hari ini.

Semua pekerjaan di dapur telah usai. Hari sudah menunjukkan jam 11.00 WIB. Ku lihat kedua putraku ke kamar. Apakah mereka sudah bangun atau belum?

Ternyata si sulung sudah dari tadi bangun, tapi ia malas untuk bangkit dari tempat tidur. Sementara itu, si bungsu masih tertidur dengan pulasnya.

Ku bujuk si sulung agar segera bangun dan langsung mandi. Si sulung yang sudah berumur 7 tahun, sudah bisa mandiri untuk mandi sendiri. Tapi ia harus ditemani setiap mengerjakan sesuatu karena sifatnya yang takut akan adanya makhluk halus.

Yah, penakut terhadap sesuatu yang berbau mistik. Waktu berumur 3 tahun, si sulung pernah melihat sesosok banyangan yang di duga adalah nenek dari keluargaku. Menurut papa mertua, anak pada usia itu ia akan dinampakkan pada sosok makhluk halus. Serem ya…

Agak ngeri juga sih mendengarnya. Selagi kita tidak mengganggunya, makhlus halus tersebut tidak akan mengganggu kita.

Si sulung sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian karakter kartun kesukaannya yang sudah ku sediakan di atas meja.

Sementara itu, si bungsu ke luar dari pintu kamar dan menuju ruang tengah. Sebelum ia mengelabuiku dengan alasannya yang susah diajak mandi, aku merayu si bungsu untuk segera mandi. Dan kali ini rayuanku berhasil.

Setelah selesai mandi, aku menyiapkan dua buah piring dan gelas untuk mereka. Makan bersama dengan menu yang sudah ku buat.

Sambil menyuapi si bungsu, pikiranku dialihkan pada rencana yang telah ku susun untuk mereka. Mengajaknya bermain bersama.

Kali ini permainan yang ku mainkan bersama putraku adalah bermain mobil-mobilan. Ini merupakan salah satu trik untuk tidak memegang gawai pada pagi ini.

Mengingat si bungsu yang mempunyai hobi mengoleksi main mobil-mobilan yang sudah memenuhi lemari mainannya. Berbeda dengan si sulung yang tidak terlalu suka dengan mobil-mobilan. Ia akan mudah bosan dan memilih untuk menonton film kartun andalannya.

Aku suruh si bungsu mengambil mobil-mobilannya untuk di bawa turun dan meletakkannya pada lantai ruang tengah. Sisi sudut ruangan itu telah dipenuhi oleh tumpukan mobil-mobilan.

Si bungsuku suka dengan jenis mobil yang berbobot besar, seperti truk, bis, mobil box, mobil tangki, mobil molen, mobil fuso, dan mobil derek. Mobil itu akan disusun ala Kenji Athaya. Bak seorang tukang parkir yang sigap mengatur mobil di lapangan parkir.

Ruangan tengah itu di sulap oleh putra bungsuku menjadi lapangan parkir. Tak kalah menarik lagi, ia membuat semacam aksi ugal-ugalan dengan meletakkan posisi kepala mobil berada di atas.

Mungkin aksi itu tercipta sewaktu ia melihat tontonan di film kartun. Sesekali suara deruan mobil ke luar dari mulutnya. Serasa menonton pertunjukan balap mobil.

Si bungsu bersama mainan kesayangannya

Aku mengikuti alur permainannya dengan berperan menjadi tukang parkir yang menagih biaya parkir. Kartu hadiah dari pasta coklat menjadi pengganti uang yang dibayarkan kepada tukang parkir.

Inilah ceritaku hari ini bersama buah hati, mana ceritamu?

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button