Cerita PendekSastra

Bintang Kelas

Satu-satunya madrasah negeri yang berada di perbatasan bagian selatan provinsi Sumatera Barat. Di sinilah cerita ini bermula. Kelas IX.7 adalah kelas yang ramai diperbincangkan oleh guru.

Terdapat 44 siswa dengan beragam macam karakter. Terkenal sebagai kelas yang super duper heboh dan sangat sulit diatur. Di kelas ini tempat berkumpulnya para bintang kelas.

Bintang kelas yang dimaksud bukanlah siswa dan siswi yang berprestasi melainkan siswa yang memiliki semangat belajar paling rendah diantara kelas 9 lainnya. Hampir 80% siswa dikelas IX.7 memiliki semangat belajar yang rendah dan sulit untuk mematuhi tata tertib sekolah.

Sabtu, 9 Februari 2020, pukul 13.30 tepatnya pada jam terakhir. Bel masuk telah dibunyikan dimana saatnya mata pelajaran SKI akan dimulai. Bapak Agung mulai memasuki kelas IX.7 yang teletak di sudut kanan kantor paling ujung.

Beliau duduk dan mengambil absen siswa satu persatu. Usai 5 menit setelah mengambil absen, pelajaran pun dimulai dengan membaca basmallah. Lalu bapak mulai menerangkan pelajaran sesuai yang akan diajarkan hari itu.

Lima menit pelajaran berlangsung.

“Langi ayo keluar,” bisik Desmi kepada Langi.

“Ngapain? kan pak guru lagi ngejelasin,” sanggah Langi.

“Ih, sok rajin banget kamu Ngi, biasanya kamu yang ajakin aku kabur terus,” bujuk Desmi.

“Hehehe, ya udah ayo Des, kalau nggak diturutin kamunya marah ke aku,” bangkit dari tempat duduk.

Langi dan Desmi meminta izin keluar dengan alasan ke kamar kecil.

Lima menit kemudian

“Desmi, ayo jajan ke kantin,” ajak Langi kepada Desmi.

“Nggak ah, aku sudah kenyang. Yuk kita ke kelas aja,” Desmi menolak ajakan Langi.

Tak lama mereka berbincang, Annisa datang menghampiri mereka.

“Hallo guys,” sapa Annisa sambil mengunyah permen karet.

“Iya hallo, loh ngapain kamu di sini Nis?’’ kata Desmi kepada Annisa.

“Iya nih, tumbenan banget kamu keluar waktu jam pelajaran,” Langi menyela pembicaraan mereka.

“Hehehe…Iya nih, bosan banget aku di kelas. Makanya aku keluar ketemu kalian,” Annisa menjelaskan.

“Yau udah teman-teman, kalo begitu mending kita jalan-jalan aja yuk,” ajak Langi kepada teman- temannya.

“Jalan-jalan kemana?’’ tanya Annisa.

“Aku ada ide nih, mending kita nongkrong di warung Tuk Curun aja,” Ajak Desmi kepada teman-temannya.

Annisa dan Langi menyetujui idenya Desmi. Kemudian mereka berjalan menuju warung Tuk Curun.

“Kira-kira nanti kita dihukum gak yah?’’ tanya Annisa diperjalanan.

“Tenang aja, kita nggak akan dihukum kok
Kalo kita gak ketahuan, hahahaha…” gurau Desmi sambil berseloroh.

“Hahahaha…, bisa aja kamu Desmi,” sambil tertawa.

Sesampainya mereka di warung Tuk Curun, mereka menemukan Nando dan Habib yang lagi menyantap sarapan dengan lahapnya.

“Woi, kalian enggak masuk?’’ tanya Desmi kepada Nando dan Habib.

“Enggak nih Des,” jawab Nando sambil memasukkan sendok yang berisi
nasi kemulutnya.

“Kenapa?’’ tanya Desmi karena penasaran.

“Kami kan lagi sarapan dulu, haahaha.”
Jawab Nando kepada Desmi yang terus bertanya kepada mereka.

“Iya nih Desmi, ganggu aja kamu,” sela Habib.

“Btw, kalian ngapain gak masuk?’’ tanya Habib kepada teman-teman ceweknya.

“Biasa, kami lagi malas banget belajar hari ini,” jawab Desmi dengan suara sombongnya.

“Hahahaha…, aku udah menduga itu dari tadi,” ejek Habib sambil tertawa.

“Loh kalian kok sarapannya siang begini?” tanya Annisa sambil meniup pisang goreng ditangannya.

“Iya nih, soalnya tadi aku kesiangan. Makanya baru sarapan,” Nando menjelaskan.

“Oooh gitu,” jawab Annisa sambil mengangguk.

Tak lama mereka berbincang-bincang, Desmi tak sengaja melihat Nabilla dan Thesa yang sedang berjalan menuju koperasi sekolah.

“Woi.., kalian mau kemana?” suara Desmi mengagetkan mereka.

“Mau ke koperasi,” jawab Thesa dengan santainya.

“Beli apa?’’ tanya Desmi lagi.

“Ya beli pena lah, kan nggak mungkin juga beli semen hahahaha…,” jawab Nabila dengan kesalnya.

“Hahaha…, bisa aja kamu Nab,” jawab Desmi.

“Woi, mampir dulu dong ke sini,” ajak Annisa.

“Iya nanti, beli pena dulu,” Jawab Nabilla

Setelah selesai membeli pena, Thesa dan Nabilla pergi menemui teman-temannya yang lagi nongkong di warung itu.

“Tuk, bungkus gorengan 5 ya,” pinta Thesa kepada Tuk Curun.

“Iya Put,” sambil mengambilakn gorengan pesanannya.

Put adalah panggilan khusus untuk anak cewek dari Tuk Curun, wkkwkkwkk lebih tepatnya panggilan kasih sayang hhahhah.

“Eh, kalo kita di sini bakal dihukum gak yah?” tanya Nabilla kepada teman-temannya.

“Semoga aja nggak, hahahaha,” jawab Annisa sambil tertawa.

Lima menit kemudian terdengar suara keributan dari belakang sekolah yang ternyata itu adalah segerombolan anak OSIM yang sedang menjalankan razia cabut dadakan.

“Woi… ayo lari woi, lari…,” teriak Desmi dengan paniknya.

Semua anak yang ada si warung itu lari tunggang-langgang menyelamatkan dirinya. Tetapi usaha mereka untuk lari ternyata sia-sia Mereka akhirnya tertangkap dan dibawa ke dalam kantor untuk dimintai keterangan oleh guru yang bertugas piket pada hari itu.

“Apa ada di antara kalian yang bisa menjelaskan ini semua kepada bapak?’’ tanya bapak Hendri.

Suasana mendadak hening karna semua siswa yang tertangkap sangat ketakutan.

Dua menit telah berlalu.

Ternyata diantara mereka tidak ada yang bisa menjelaskan semuanya kepada bapak Hendri selaku wakil kesiswaan. Mereka tertunduk seperti kucing kena lidi. Akhirnya mereka dihukum dengan hukuman jalan jongkok 2 kali keliling lapangan.

Setelah dihukum mereka berjanji tidak akan mengulangi kejadian ini lagi dan jika mengulangi kesalahan yang sama, bersedia untuk menerimanya 2 kali lipat.

Mereka kembali ke kelas dan meminta maaf kepada bapak Agung. Hari-hari berikutnya mereka belajar dengan rajin dan tidak mengulangi kesalahan. Sampai pada akhirnya mereka telah lulus dari Madrasah tersebut dengan nilai yang cukup baik.

Semua ini atas hukuman dari bapak, jika bapak tidak menghukum kami, mungkin kami tidak akan sadar dan selalu berbuat salah,” ucap Nando mewakili teman-temannya.

KETIKA GURU MEMARAHI KITA, ITU TANDANYA GURU MASIH PEDULI DAN MENYAYANGI KITA. BUKAN BERARTI GURU MARAH KARENA MEMBENCI KITA.

Sebuah cerpen yang ditulis oleh Thesa Febriola siswa kelas IX.7. Si gadis kecil nan imut ini memenangkan lomba menulis cerpen dan puisi yang dibuat oleh guru bahasa Indonesianya. Tujuannya agar anak didiknya tetap berkarya ditengah bencana.

Cerpen ini diedit tanpa mengubah tujuan, makna dan isi.

Related Articles

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button