Cerita PendekSastra

Andini

T erik matahari menyengat, tepat berada di atas kepala. Membuat siapa saja yang lalu lalang di jalan itu kepanasan. Suasana di taman kota tampak sepi. Bahkan di jalan raya sekalipun. Hanya bunyi deruan kuda besi yang terdengar jelas karena pengendara bebas sepuasnya memacu laju mesinnya.

Mengingat hari masih siang, tentu belum ada orang yang berkunjung ke sana. Biasanya taman kota ramai dikunjungi ketika sudah sore menjelang malam. Hanya sekedar untuk duduk melepas penat atau sengaja datang ke taman dengan membawa anak untuk bermain. 

Siang itu, Andini sedang duduk di taman kota. Sekelompok para bocah ingusan dengan pakaian lusuh tengah asyik bercanda gurau dengan teman sebayanya.

Sesekali giginya yang ompong tersungging manis ketika bercanda dengan temannya. Mereka tampak bahagia tak ada ruang beban terpancar di wajahnya.

Seketika kebahagian mereka seakan dirampas oleh keributan yang terjadi dipinggir seberang sana. Ada beberapa petugas berseragam turun dari mobil.

Melihat kejadian itu, mereka lari tunggang-langgang menyelamatkan diri. Begitu juga dengan Andini. Ia teringat akan kios ibunya yang tak jauh berada di lokasi itu.

Tanpa pikir panjang, Andini segera menyeberang jalan. Berlari sekencangnya tidak memikirkan laju motor yang sempat menghadang di depan matanya. Beberapa pengendara membunyikan klakson padanya. Tapi ia tetap tidak menghiraukannya.

Ia berlari menyusuri gang kecil dirempatan jalan itu. Menyusuri toko kelontong, tukang ojek, pejalan kaki bahkan orang yang lalu di jalan itu. Sesekali ia menoleh ke belakang, tampak petugas satpol PP sedang mengejarnya.

Gadis itu pun sampai di sebuah kios kecil. Menggedor-gedor pintu samping kios. “Ibu, cepat buka pintunya? “Aku dikejar-kejar satpol PP bu?” jelas Andini.

“Cepat masuk nak, ajak ibu.” Belum sempat Andini masuk, petugas itu sudah berada di depan pintu.
“Rupanya kamu tinggal di sini ya,” kata pemuda berseragam. Petugas itu sibuk mengontak temannya memberitahu untuk membawa mobil ke sini.

“Cepat Andini! Kita harus pergi dari sini,” perintah ibu. Dengan sigap, mereka segera membereskan barang yang akan dimasukkan dalam buntalan. Mereka lewat pintu belakang menyelinap pagar tetangga. Pergi dan berlalu. Tampak beberapa kios sudah dirubuhkan oleh petugas itu.

***

Hujan sore itu mengguyur kota. Tampaknya masih awet hingga malam tiba. Jalanan basah dan tergenang air hujan. Kehidupan kota sore itu menandakan betapa kelamnya alam semesta.

Andini dan ibu berteduh di depan toko yang sudah tidak ada pengunjungnya lagi. Sorotan lampu-lampu jalan, mobil dan motor bahkan papan reklame menyinari pelataran toko itu.

Andini berbaring di pangkuan ibunya. Napasnya menderu, bibirnya memucat menahan dinginnya suasana kota. Ibu menutup tubuh Andini dengan berbalut kain panjang.  

Tak lupa ia menyentuh keningnya. Terasa panas memang. Lalu diteruskan menyentuh kakinya yang dingin. Mungkin Andini masuk angin.

Sang ibu memeluknya erat agar tubuhnya terasa hangat. Andini sedikit berkeringat. Ibu mengibaskan helai rambutnya yang lurus ke belakang. Sesekali ia mengecup kening bahkan pipi Andini.

Matanya terpejam sambil mengelus-elus rambutnya. Ia membayangkan betapa Andini kecil merasakan pahitnya kehidupan kota yang kejam. Tanpa terasa buliran itu jatuh mengenai pipinya yang mulai kumuh.

Tidak sepantasnya gadisku merasakan kehidupan yang keras ini. Saat ia harus mengenyam pendidikan dan mendapat kehidupan yang layak seperti anak sebayanya.

***

Lagi-lagi Andini dan ibunya harus mencari tempat tinggal baru. Teringat akan kios mereka yang sudah rubuh. Ini merupakan kali ketiganya mereka harus mencari tempat untuk tinggal.

Mereka berjalan menyusuri jalanan yang padat. Melewati simpang, gang demi gang banyak pengendara lalu-lalang menambah kebisingin kota pagi itu. Ditambah lagi bunyi klakson seakan tidak sabar menunggu lampu hijau menyala.

Deretan antiran panjang kendaraan memenuhi jalan raya. Semua orang terburu-buru mengejar waktu. Begitulah rutinitas kepadatan kota pagi ini.

Andini menghentikan langkahnya pada sebuah taman kecil yang terletak di sudut kantor berlambang uang itu.
“Liat deh bu, bapak berjas hitam itu, gagah ya bu,” sambil menunjuk pada pria berjas itu.

Mungkin Andini rindu akan sosok seorang ayah. Pikirannya kembali diingatkan pada 7 tahun yang lalu. Rengekan bayi malam itu memecahkan rumah warga sekitar perkampungan kumuh. Tepatnya saat itu Andini ditemukan di dalam sebuah kardus oleh bu Asri yang dianggap ibu kandungnya itu.

Diletakkan begitu saja oleh orangtua yang tidak bertanggung jawab. Orangtua mana yang tega mencampakkan anak secantik Andini.

Waktu itu, para tetangga secara bergantian mengasuh Andini, bayi yang menggemaskan. Ketika ibu Asri pergi berangkat mencari botol-botol plastik dan barang yang bisa dijual, ia menitipkan Andini kepada tetangga.

Saat karung bekasnya sudah terisi oleh barang bekas, pada saat itu juga bu Asri bergegas pulang dan langsung menjual barang tersebut. Berharap dapat uang lebih dengan membelikan Andini roti biskuit untuk dimakannya bersama air gula.

Tak bisa membelikan susu buat Andini. Bu Astri mengakalinya dengan mencampurkan sedikit gula pada air putih agar rasanya sedikit manis. Jika ada uang lebih barulah Bu Asri membelikan roti biskuit penganjal lapar bayi malang itu.

Terkadang para tetangga yang iba melihatnya, menyisihkan sebagian uang untuk patungan membelikan Andini sekotak susu berukuran kecil. Andini tumbuh dan dibesarkan diperkampungan kumuh.

Saat berumur 3 tahun, Andini sudah diajak oleh bu Asri ikut mulung sampah. Ia juga memilih dan memilah barang yang layak dan tidak layak untuk dijual. Ia sudah terbiasa dengan bau aroma busuk sampah yang menusuk hidung. Mungkin inilah hirupan udaranya sehari-hari sehingga membuat hidungnya yang mungil itu peka terhadap rangsangan.

Menginjak usia 5 tahun, gadis kecil itu memilih untuk menjadi pedagang asongan. Berkeliling stasiun menjajakan minuman kepada para penumpang yang sedang menunggu kereta.

Awalnya bu Asri menolak permintaan Andini. Tapi ia bersikeras agar dapat membantu ibunya mencari sesuap nasi.

“Bu, Andini mau pulang!” rengekan manjanya membuyarkan lamunan bu Asri.
“Kita mau pulang kemana nak,” sambil memperbaiki letak rambut yang menutupi matanya.

***

Senjapun tiba, mereka kembali berjalan mencari tempat untuk tidur malam ini. Bu Asri memegang erat tangan mungilnya Andini. Genggamannya seakan tidak lepas dari tangannya yang mulai keriput.

Kepalanya agak sedikit berat. Penglihatannya mulai berkunang-kunang. Sempat ia menghentikan langkahnya, tetapi wanita yang beranjak tua itu tetap bersikeras sampai di depan toko.

Ia membentangkan kardus dan selimut untuk Andini. Malam itu mereka tidur diemperan depan toko emas.

“Ibu kenapa,” tanya Andini.
“Ibu baik-baik saja kok nak,” jawab bu Asri dengan nada menenangkan.

“Tidurlah sayang.” Bu Asri berusaha menyembunyikan rasa sakit yang tidak bisa ditahan lagi. Kepalanya sekan pecah dan dinginnya malam membuat wanita itu menggigil kedinginan.

Ia merebahkan badannya sambil menyelimuti Andini. Mendekap tubuh gadis itu erat-erat agar badannya terasa hangat.

***

Matahari mulai menampakkan wajah diperaduannya. Kesibukan pagi itu amat kental. Akvifitas kembali dimulai. Suara mobil dan motor yang lalu-lalang di depan toko membangunkan  Andini.

Andini membuka matanya yang masih setengah terbuka. Ia bangkit dari tidurnya. Mencoba mencari sosok ibu yang berada tepat di belakangnya. Andini langsung menoleh pada ibunya.

“Ibu, bangun bu…,” sambil mengoyang-goyangkan tubuh ibunya. Tak ada jawaban dari ibu. Ia kembali memanggil ibunya bahkan mengguncang sekuat tenaganya.

“Ibu…!” pekikan kerasnya membuat orang yang lalu di depan toko itu berhenti.
“Ibu…, Ibu…, Ibu…” Orang-orang yang menyaksikan pemandangan itu, hanya bisa mematung. Tak banyak yang dapat dilakukan.

Fide Baraguma

Saya adalah ibu dari 2 jagoan hebat yang sering terpisah jarak karena tugas abdi negara sebagai tenaga pendidik di perbatasan Sumatera Barat dan Jambi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button